Agustus 16, 2021, 19:56 WIB
Last Updated 2021-08-16T13:03:16Z

Seminar Online Dengan Pembicara Kabinda Kalbar Diikuti 930 Mahasiswa Untan, Ini Arahanya

Advertisement
dokumentasi mahasiswa bersama Kabinda Kalbar

PENAKHATULISTIWA.ID(PONTIANAK)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura(Untan) Pontianak, Menggelar Seminar Online Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru, pada Sabtu(14/8/21), 

Kegiatan yang diikuti 930 mahasiswa itu menghadirkan pembicara yaitu Kepala Badan Intelijen Nasional Daerah (Kabinda) Kalimantan Barat, Brigjen Pol Rudi Tranggono.

Dalam webinar yang bertajuk Membumikan Kesadaran Bela Negara ini, Rudi Tranggono menganalogikan generasi muda dimasa kini seperti handphone android yang mudah disusupi virus.

“Didunia maya tidak semuanya benar. Kita akan menghadapi informasi palsu dan provokasi. Maka tantangannya adalah filterisasi dan check and richeck agar tidak terdampak negatif dari perkembangan teknologi,” pesan Rudi.

Rudi menjelaskan, proxy war merupakan perang yang menggunakan teknologi, media massa, cyber war yang menciptakan suatu ketidak stabilan sebuah negara tanpa disadari infiltrasinya.

“Tantangan generasi milenial bangsa ini yakni gempuran dan pola pintar melalui F-7, demokrasi yang mengarah pada perpecahan, peredaran narkoba, penyebaran paham radikalisme dan terorisme, dan serbuan hoax di media sosial,” papar Rudi.

Secara regional, Rudi mengatakan, tantangan yang dihadapi seputar permasalahan konflik laut cina selatan, permasalahan sawit, terorisme dan narkoba. Sedangkan tantangan nasional berkutat persoalan pandemi covid-19, pemulihan ekonomi, sosial cultural, tantangan politik 2024, masalah HAM, dan munculnya dikotomi kedaerahan yang mengancam kesatuan dan persatuan bangsa.

“Termasuk pula ancaman  ideologi pancasila berupa pemaksaan agama tertentu terhadap pancasila dan rendahnya nasionalisme generasi milenial. Maka, peran mahasiswa dalam menjaga ketahanan nasional di Kalbar dengan memahami situasi global regional, ikut menjaga stabilitas nasional, membangun kesamaan persepsi untuk tegaknya NKRI,” sebutnya.

Rudi mengingatkan, cita-cita tujuan nasional berdasarkan pembukaan UUD 1945 yakni mewujudkan negara Indonesia yang merderka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dan misinya adalah melindungi segenap bangsa indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamamaian.

“Implementasi giat bangun kesadaran bela negara dikalangan mahasiswa guna meningkatkan pemahaman ideologi pancasila, membangun jiwa patriotisme, menyiapkan sumber daya indonesia yang handal dan beretika, dan mampu memfilter dampak negatif perkembangan teknologi informasi,” pendapatnya.

Dalam kegiatan itu juga dilaksanakan tanya jawab. Beberapa pertanyaan berkaitan dengan sikap pemerintah terhadap TKA serta kebijakan wajib militer bagi masyarakat khususnya kalangan mahasiswa.

“Pemerintah sudah membuat regulasi TKA yang masuk ke Indonesia merupakan tenaga ahli yang mengawaki alat sensitif, seperti di smelter WHW yang alatnya hanya berbahasa cina, dan mereka berkewajiban mentransformasika ilmu mereka ke tenaga kerja lokal,” jawab Rudi.

“Terkait wajib militer, setiap warga negara wajib bela negara dan bangsa ini. Makanya, kita harus menimbulkan rasa nasionalisme. Sedangkan kebijakan wajib militer yang dilaksanakan Menteri Pertahanan merupakan bela negara bersifat parsial karena kekuatan TNI dan Polri masih surplus,” pungkasnya.

Penulis: Fernando M