Maret 16, 2026, 22:25 WIB
Last Updated 2026-03-16T15:25:15Z

Kapan 1 Syawal 1447 H? Berikut Rilis Data Hilal Oleh LF PBNU

Advertisement

 

Ilustrasi pemantauan hilal 

Penakhatulistiwa.id (Jombang) - Data terkait hilal Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H telah dirilis oleh Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) dalam Informasi Hilal Awal Syawal 1447 H. 



Melansir dari NU Online berdasarkan penghitungan data pada Kamis, 19 Maret 2026 atau tanggal 29 Ramadhan, tinggi hilal sudah mencapai di atas ufuk, namun belum memenuhi kriteria imkanur rukyah.



Metode penghitungan yang diterapkan oleh LF PBNU adalah metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer yang masyhur digunakan oleh Nahdlatul Ulama.




Pengamatan dilakukan di Jakarta dengan titik di markaz Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat (koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT). Tinggi hilal menunjukkan 1 derajat 43 menit 54 detik dengan letak matahari terbenam pada 12 derajat 03 menit 24 detik selatan titik barat dengan elongasi 5 derajat 44 menit 49 detik dan lama hilal 10 menit 51 detik. Sementara ijtimak (konjungsi) terjadi pada Kamis Kliwon 19 Maret 2026 M pukul 08:25:58 WIB.




Sementara itu, letak matahari terbenam berada di 00 derajat 33 menit 01 detik selatan titik barat dengan letak hilal berada pada 03 derajat 33 menit 03 detik selatan titik barat dan kedudukan hilal pada 03 derajat 00 menit 02 detik selatan Matahari dalam keadaan miring ke utara.




Tinggi hilal terbesar terjadi di Kota Sabang, Provinsi Aceh dengan tinggi hilal mar’ie  2 derajat 53 menit dan elongasi hilal haqiqi 6 derajat 09 menit, serta lama hilal 14 menit 44 detik. Sementara ketinggian hilal terkecil terjadi di Merauke, Provinsi Papua Selatan dengan tinggi hilal mar’ie 0 derajat 49 menit dan elongasi hilal haqiqy 4 derajat 36 menit, serta lama hilal 6 menit 36 detik.



Rilis data terkait perkiraan Hilal 1 Syawal 1447 H yang lain dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam Informasi Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam Tanggal 19 Maret 2026 M.




Dalam informasi itu, dijelaskan bahwa konjungsi akan terjadi pada hari Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 01.23.23 UT atau  Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 08.23.23 WIB atau Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 09.23.23 WITA  atau Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 10.23.23 WIT, yaitu saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 358,45 derajat.



Di wilayah Indonesia pada tanggal 19 Maret 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.48.13 WIT di Waris, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.49.39 WIB di Banda Aceh, Aceh.





Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam tanggal 19 Maret 2026 di seluruh wilayah Indonesia. Adapun ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 0.91 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 3.13 derajat di Sabang, Aceh. 



Sementara itu, besaran elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 4.54 derajat di Waris, Papua sampai dengan 6.1 derajat di Banda Aceh, Aceh.



Data BMKG juga menunjukkan umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 7.41 jam di Waris, Papua sampai dengan 10.44 jam di Banda Aceh, Aceh. Adapun lama Hilal di atas ufuk saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026 berkisar antara 5.6 menit di Merauke, Papua sampai dengan 15.66 menit di Sabang, Aceh. 




Dari data-data di atas, dapat disimpulkan bahwa bulan Ramadhan 1447 H berpotensi digenapkan menjadi 30 hari sebab belum terpenuhinya kriteria imkanur rukyah.



Oleh karena itu, besar kemungkinan Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026. Namun, keputusan final tetap berdasarkan hasil sidang isbat oleh Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI pada Kamis (19/3/2026) malam.