Oktober 21, 2023, 18:16 WIB
Last Updated 2023-10-21T11:16:20Z
Artikel

Sejarah Hari Santri Nasional & Peran Santri Untuk Kemerdekaan RI

Advertisement

 

Ilustrasi bung Tomo dan KH Hasyim Asy'ari 

PENAKHATULISTIWA.ID (SEKADAU) - Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober setiap tahunnya. Lantas, Seperti apa sejarah Hari Santri Nasional ini?


Ada sejarah panjang dibalik penetapan Hari Santri Nasional. Sejarah penetapannya itu berhubungan langsung dengan peristiwa perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan.


Para santri melakukan gerakan jihad sebagai bentuk kontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Atas kontribusi para santri itulah maka ditetapkan Hari Santri Nasional.


Nah, untuk memahami cerita selengkapnya, berikut sejarah ditetapkannya Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober.


Disimak, ya!


Dilansir dari laman NU Online, Hari Santri Nasional diawali atas usulan masyarakat pesantren. Menurut para santri Hari Santri ini perlu ditetapkan sebagai momentum untuk mengingat, mengenang, dan meneladani kaum santri yang telah berjuang merebut kemerdekaan Indonesia.


Hari Santri Nasional pertama kali diusulkan oleh ratusan santri Pondok Pesantren Babussalam, Desa Banjarejo, Malang, pada tahun 2014. Pada saat itu, pondok pesantren menerima kunjungan Joko Widodo yang masih berstatus sebagai calon presiden.


Pada kesempatan tersebut, Jokowi menegaskan bahwa keinginan para santri akan dia perjuangkan. Oleh karenanya, pada hari yang sama Jokowi menandatangani komitmennya untuk menetapkan Hari Santri Nasional tanggal 1 Muharram.


Pengurus Besar Nahdlatul Ulama kemudian mempertimbangkan tanggal penetapan Hari Santri Nasional tersebut. Mereka mengusulkan Hari Santri ditetapkan bukan tanggal 1 Muharram melainkan tanggal 22 Oktober yang dilatarbelakangi momen bersejarah.


Pada tanggal 22 Oktober 1945, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari seorang ulama sekaligus pahlawan nasional Indonesia mencetuskan fatwa resolusi jihad. Hal tersebut dilakukannya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang kembali diserang oleh Sekutu.


Oleh karena itu, dipilihlah tanggal 22 Oktober untuk mengingat dan mengenang sejarah resolusi jihad KH Hasyim Asy'ari. Sayangnya, usulan tersebut mengundang polemik daan berbagai alasan penolakan bermunculan.


Sejumlah orang takut dan khawatir akan terjadinya perpecahan karena tidak ada pengakuan bagi yang bukan santri. Namun, pada 15 Oktober 2015, Presiden Jokowi akhirnya menetapkan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.


Sejak penetapan itu, setiap tahunnya Hari Santri Nasional pun dirayakan dengan berbagai kegiatan. Kementerian Agama (Kemenag) setiap tahunnya senantiasa merilis tema dan logo untuk memeriahkan hari ini.




Tema Peringatan Hari Santri Nasional 2023


Menjelang Hari Santri Nasional tahun ini, Kementerian Agama meluncurkan tema untuk memeriahkan perayaannya. Tahun ini Kemenag mengangkat tema "Jihad Santri Jayakan Negeri" untuk mengajak santri berjuang dengan semangat jihad seperti dilansir dari laman resmi Kemenag RI.


"Melalui tema ini, kami ajak para santri untuk terus berjuang membangun kejayaan negeri dengan semangat jihad intelektual di era transformasi digital," ujar Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas dalam acara launching logo Hari Santri Nasional di Kemenag, Jakarta, Jumat (6/10).


Tema yang diangkat oleh Kemenag ini memiliki makna secara historis dan kontekstual. Secara historis tema ini diusung untuk mengenang peran besar para santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


"Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober itu mengacu pada Resolusi Jihad yang dimaklumatkan oleh Kiai Hasyim Asyari. Resolusi Jihad itu berisi seruan kepada seluruh masyarakat agar berjuang menolak dan melawan penjajah," tegas Yaqut.


Adapun secara kontekstual, tema ini menegaskan peran santri untuk tetap berkontribusi aktif memajukan negeri. Kontribusi jihad yang dilakukan oleh santri tersebut tidak selalu merujuk pada peperangan angkat senjata melainkan perjuangan melawan kebodohan.


"Jihad santri secara kontekstual adalah jihad intelektual, di mana para santri adalah para pejuang dalam melawan kebodohan dan ketertinggalan. Santri juga turut berjuang dan mengambil peran di era transformasi digital," tambahnya.


Kegiatan pada Hari Santri Nasional


Perayaan Hari Santri Nasional tahun 2023 ini akan diisi dengan sejumlah kegiatan meriah oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Dikutip dari laman resminya, Kemenag akan menyelenggarakan festival seni dan budaya santri bertajuk 'Festival Mahrojan'.


Festival itu akan dirangkaikan dengan pameran seni rupa, malam gebyar seni budaya, serta melukis bareng Gus Men dan Gus Mus. Penyelenggaraan mahrojan itu akan berlangsung di Kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah mulai tanggal 14-22 Oktober.


Selain itu, Kemenag akan mengadakan acara 'Kemandirian Pesantren Expo'. Ada pula kegiatan Kirab Santri yang sudah berlangsung sejak 8 Oktober dan melibatkan sekitar 10.000 santri dari berbagai pesantren di Jawa.


Pada puncaknya di tanggal 22 Oktober akan diadakan 'Apel Hari Santri' yang akan diselenggarakan di Kawasan Tugu Pahlawan Surabaya, Jawa Timur. Diperkirakan peserta yang akan hadir berjumlah 15.000 orang dan terdiri dari wakil presiden, para menteri Kabinet Indonesia Maju, duta besar negara tetangga, Jaksa Agung, Kapolri, pimpinan TNI dan tokoh-tokoh masyarakat.


Dan terakhir sebagai pamungkas perayaan, Kemenag bekerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengadakan 'Shalawat Perdamaian' pada malam hari di tanggal 22 Oktober. Kegiatan tersebut mengundang Habib Syech bin Abdul Qodir Solo dan diperkirakan akan dihadiri sebanyak 50.000 orang.


Nah itulah tadi sejarah Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Semoga menambah wawasan ya, sahabat Pena!


(Team)